Senin, 24 November 2008

IMPIAN SUAMI ISTRI

IMPIAN SUAMI ISTRI


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam,. di sebuah ruang tamu yang luas dan mewah duduk di sofa empuk sepasang suami istri. Tatapan matanya seolah-olah sedang menyantap sajian sinetron di tayangan televisi padahal pikirannya mengembara entah ke mana.
“ Bu, kita ini sudah tua. Usia kita tak terasa sudah lebih dari setengah abad, berapa lama lagi kita bisa hidup bersama,” terdengar suara berat Pak Kasman sambil menatap istrinya.
“Ya, kita memang sudah tua, dan kita pun sudah kaya hidup kita dikelilingi harta,” ujar Bu Ratih sambil menggeserkan air minum buat suaminya itu.
“ Heeh, memang, menurut orang kita ini sudah kaya. Perusahaan kita semakin berkembang, kita bisa mengeruk keuntungan yang sangat besar setiap bulannya. Rumah kita laksana keraton yang megah dengan halaman yang sangat luas. Tapi….,” suara Pak Kasman berhenti, terasa kerongkongannya menjadi kering kerontang. Matanya kosong sambil menatap tayangan televisi .
“ Itu semua disebabkan karena aku, karena keadaanku ini. Usia perkawinan kita sudah lebih dari seperempat abad. Bertahun-tahun kita sangat menantikan kehadiran buah hati, yang bisa meneruskan cita-cita kita, tapi impian tinggallah impian. Berpuluh-puluh dokter kandungan ternama sudah kita coba, berpuluh-puluh tabib tersohor sudah kita kunjungi, namun semua itu tak bisa mengubah keadaanku ini. Akulah yang menyebabkan hidup menjadi sepi begini, akulah yang menyebabkan kau merana seperti ini,” kemudian meledak tangis Bu Ratih. Bahunya berguncang hebat
“ Jangan, jangan salahkan dirimu sendiri, Bu. Kita tidak kuasa melawan takdir ini,” Pak Kasman bangkit lalu mendekap tubuh istri yang sangat dicintainya itu
“ Sudah lama aku sarankan agar Bapak mencari pendamping yang bisa memberikan keturunan, tidak mandul seperti aku ini. Aku sudah rela dimadu. Bukankah tujuan berumah tangga itu agar kita mendapatkan keturunan.”
Perkataan itu terasa sangat menusuk jantung Pak Kasman.. “ Beratus-ratus kali kau menyuruhku untuk mencari pendamping yang baru, aku takan mela kukannya. Cintaku hanya untukmu seorang, tak mungkin aku membagi cinta dengan perempuan yang lain..”
Tangan Pak Kasman membelai rambut istrinya yang telah beruban, dihapus air mata istrinya dengan penuh kasih sayang. Keduanya berpelukan erat. Keduanya mengalirkan air mata, rasa pedih menyelimuti relung-relung hati mereka.
Pak Kasman menyadari betul akan kesetian istrinya itu, bahkan ia merasa istrinya telah membawa keberuntungan dalam hidupnya. Bu Ratih adalah anak satu-satunya searang pengusaha yang kaya raya. Sepeninggal orang tuanya seluruh harta warisan jatuh ke tangan istrinya.
Pagi yang cerah,matahari sudah keluar dari peraduannya. Diam-diam Bu Ratih mengunjungi sebuah panti asuhan, ditemuinya para pengurus panti asuhan itu dan dia pun menyampaikan tujuan kedatangannya itu. Pengurus panti asuhan pun menyambut kedatangan Bu Ratih dengan sejuta harapan. Siapa yang tak kenal Bu Ratih dan Pak Kasman orang terkaya di Ciseeng Bogor.
“ Pak, kalau Bapak tidak berniat untuk menikah lagi sebaiknya kita mengambil anak angkat saja. Aku sudah mengunjungi panti asuhan dan di sana banyak anak-anak yang membutuhkan kasih sayang orang tua ,” terdengar suara Bu Ratih dengan penuh ragu, karena dia tahu dulu telah menganjurkan hal yang sama tapi suaminya menolak. Dia berharap kali ini suaminya telah berubah pikiran.
Pak Kasman meletakan koran yang tengah dibacanya itu, ditatap wajah istrinya dalam-dalam. “Bu, kalau kita mengambil anak angkat sama saja kita mencari petaka. Apakah Ibu tidak pernah membaca koran, melihat TV tentang kasus-kasus keserakahan anak angkat? Musibah akan menjemput kita, kita bisa jadi sengsara bahkan yang lebih parah nyawa kita akan terancam,” Pak Kasman mencoba meyakinkan istrinya.
Bu Ratih diam membisu rasanya tak kuasa untuk berdebat dengan suaminya itu. Hatinya berontak, jiwanya meronta namun apalah daya. Dia tahu betul sifat suaminya yang selalu berpegang teguh akan pendiriannya tak bisa ditawar-tawar lagi.
Akhirnya untuk mengusir rasa sepi Bu Ratih mempekerjakan beberapa orang pembantu rumah tangga. Tak jarang ketika pembantunya sedang bekerja Bu Ratih ikut membantunya. Namun ternyata kesepian tak pernah mau beranjak pergi. Anak dan cucu yang lucu-lucu selalu terbayang-bayang dihadapannya.
Sampai pada suatu pagi buta tedengar jeritan Minah memecah kesunyian. Pak Kasman dan istrinya begitu terperanjat mendengar jeritan yang minta tolong itu. Dicari dan dihampirinya asal mula suara itu, yang ternyata berasal dari kamar Ningsih salah seorang pembantu rumah tangganya. Di atas ranjang tergolek kaku Ningsih, sedangkan Minah terus menangis sambil mengguncang-guncang tubuh Ningsih yang sudah tidak bernyawa lagi.
“ Kenapa dengan Ningsih ?” Tanya Pak Kasman dan istrinya sambil mendekati ranjang tempat Ningsih tergolek.
“ Engga tahu juragan, saya berniat membangunkan Ningsih tapi keadaannya sudah begini.”
Siang itu juga tersiar kabar bahwa salah seorang pembantu Pak Kasman meninggal secara tiba-tiba. Desas-desus tentang Pak Kasman yang telah nempersembahkan tumbal agar harta kekayaannya semakin melimpah telah menjadi buah bibir. Untung saja Pak Kasman jarang bergaual dengan orang-orang yang ada di sekitarnya sehingga tidak tahu menahu apa kata mereka tentang dirinya.
Dari kejadian itu satu persatu pembantu rumah tangga pak Kasman minta untuk berhenti dengan berbagai alasan. Pak Kasman mencari penggati pembantu yang lain lewat penyalur. Pak Kasman merasakan ada sesuatu yang aneh pada pembantu-pembantunya yang baru itu. Kecurigaan Pak Kasman semakin menjadi-jadi ketika melihat para pembantunya itu sering ngobrol bersama di suatu tempat yang agak tersembunyi seolah-olah sedang merencanakan sesuatu, sesuatu yang buruk bagi dirinya dan istrinya.
“ Bu, kita ini harus hati-hati atas bahaya yang sedang mengancam kita. Lihat berita ini, Bu!” ujar Pak Kasman sambil sambil menunjuk pada sebuah berita yang tertulis pada surat kabar “Radar Bogor”. Di situ tertulis dengan jelas” Tiga pembantu Rumah Tangga Bantai Majikan dengan Sadis.”
Bu Ratih menjadi bingung “ Maksud Bapak ini apa ?”
“ Besok Bapak akan memberhentikan para pembantu kita. Mereka telah berkomplot untuk mencelakai dan merampas harta kita.”
“ Tidak boleh berprasangka buruk Pak, itu tidak baik . Mereka butuh makan dan menghidupi keluarganya. Kalau tidak ada mereka siapa yang akan membantuku untuk mengurus semuanya?”
“ Kita memang sudah ditakdirkan untuk hidup berdua, Bapak rasa semuanya akan teratasi. Yang terpenting hidup kita ini aman dari segala mara bahaya.”
Setiap malam menjelang tidur hati Pak Kasman selalu merasa gelisah. Sering bertanya pada dirinya “ Untuk siapa harta kekayaan yang berlimpah itu, bahagiakah hidupku dengan semua kekayaan itu, seberapa besar cintaku pada harta kekayaan itu?” Pertanyaan-pertanyaan itu selalu mengusiknya sekalipun dia berusaha untuk membuangnya jauh-jauh.
Serentetan pertanyaan-pertanyaan itu telah membawa dirinya ke alam mimpi. Dalam selimut sepi yang semakin pekat, Pak Kasman merasa aman kalau tidurnya itu selalu menghadap ke dinding tembok yang kokoh.
Dalam mimpinya dia bertemu dengan kakek-kakek yang berjubah putih, kemudian diajaknya berjalan berkeliling ke sebuah perkampungan yang amat kumuh. Di sana didapati petak-petak rumah yang kumuh dengan ukuran yang sangat kecil. Sasana itu sangat asing bagi dirinya. Kadang Pak Kasman memberanikan diri bertanya pada orang-orang yang dijumpainya, tapi mereka diam membisu hanya terpancar senyum-senyum sinis sebagai jawabannya. Pak Kasman menjadi bingung lalu meneruskan perjalanannya. Pemandangan yang indah terlintas di hadapannya katika melihat anak-anak kecil dengan kain kumal membungkus tubuhnya yang kering tak berdaging sedang asyik bermain sesekali terdengar celotehan dan tawa mereka. Ketika anak-anak itu dihampirinya mereka lari ketakutan seperti dikejar setan sambil berteriak minta tolong pada orang tuanya.
“ Apa yang dapat kau lihat dan kau rasakan?” tiba-tiba kakek tua itu sudah berada disampingnya
“ Mengapa semua orang tak memperdulikanku, mengapa anak-anak takut padaku?”
“ Aku yakin suatu saat kau akan menemukan jawabannya sendiri, lepaskan belenggu yang telah memenjarakan hatimu,” bisik kakek tua itu nyaris tak terdengar lalu menghilang ditelan angin.
Pak Kasman berteriak memanggil kakek tua itu, karena dia merasa penasaran dengan ucapan kakek tua itu.
“ Pak…. Bapak bermimpi yah?” Ucap Bu Ratih sambil mengguncang-guncangkan tubuh suaminya itu.
“ Ya…. aku bermimpi, dalam mimpiku aku diajak jalan-jalan oleh kakek tua ke sebuah perkampungan yang kumuh, di sana aku menyaksikan hal-hal aneh yang terasa asing bagiku.”
“ Aku juga mengalami mimpi yang sama,” jawab Bu Ratih dengan tatapan mata yang penuh keheranan.
Malam berganti malam Pak Kasman dan Bu Ratih selalu mengalami mimpi-mimpi yang nyaris sama. Mimpi-mimpi yang hadir itu ada kalanya membawa mereka
terbang ke alam yang mampu mengobati kerinduannya, tetapi juga tak jarang mereka sering terjaga dari tidurnya dengan hadirnya mimpi-mimpi yang menyeramkan.
Dalam kamar yang begitu luas dengan segala perlengkapan yang serba mewah menjadi saksi bisu dalam setiap mimpi-mimpinya. Kali ini dalam lelap tidurnya, Pak Kasman mengalami mimpi yang sangat mencekam. Istrinya menjerit-jerit histeris meminta pertolongan ketika gemuruh angin yang begitu dahsyat sanggup menumbangkan kokohnya pepohonan di sekitar rumahnya menerpa mengenai tubuh istrinya. Pak Kasman terperenjat, kemudian mencari istrinya, didapatinya Bu Ratih sedang menangis ketakutan ketika menyaksikan bangunan kokoh rumahnya bergetar hebat disertai retakan-retakan besar dengan atap yang hampir mau ambruk.
Pak Kasman sadar apa yang dialaminya bukanlah mimpi, tapi benar-benar nyata. Pak Kasman berfikir apa yang harus diselamatkan, dirinya, istrinya ataukah hartanya? Akhirnya dengan mantap ia menyeret istrinya berlari ke luar menghindari robohan bangunan yang hampir ambruk.
Di halaman yang luas mereka menyaksikan bangunan yang hampir rata dengan tanah, begitu dahsyatnya angin puting beliung menyapu segala harta yang dimilikinya yang selama ini begitu ia banggakan.
Dalam keadaan shok, Pak Kasman mendengar jeritan seorang anak diantara reruntuhan bangunan rumah tetangganya. Didapatinya kedua orang tua anak itu tergeletak kaku dengan sebagian tubuhnya tertimbun reruntuhan.
Pak Kasman dan Bu Ratih menghampirinya dan mendekap erat anak itu seraya berbisik ” Kami akan menjadi orang tuamu yang baru, Nak.”





Tidak ada komentar: